Lompat ke konten

Merajut Strategi di Kota Budaya: Langkah Prodi AFI UIN Salatiga Menyongsong Tata Kelola Modern

SURAKARTA – Nuansa serius dan penuh refleksi mewarnai kegiatan akademik Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Humaniora (FUADAH) UIN Salatiga yang digelar di Hotel Solia Zigna Kampung Batik, Surakarta, pada pertengahan Desember 2025. Selama tiga hari, Rabu hingga Jumat (17–19/12), para akademisi lintas program studi—termasuk delegasi Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam (AFI)—berkumpul dalam sebuah forum strategis bertajuk Workshop Koordinasi, Evaluasi Pelaksanaan Anggaran 2025 dan Penyusunan Anggaran Berbasis Renstra 2026.

Forum ini bukan sekadar agenda rutin kelembagaan, melainkan ruang bersama untuk merumuskan arah masa depan fakultas di tengah tantangan tata kelola perguruan tinggi yang semakin kompleks. Kegiatan resmi dibuka pada Rabu siang oleh Dekan FUADAH, Prof. Dr. Supardi, S.Ag., M.A., yang menegaskan pentingnya sinkronisasi visi akademik dengan prinsip pengelolaan Badan Layanan Umum (BLU) yang profesional dan berkelanjutan. Acara pembukaan kian khidmat dengan doa yang dipimpin oleh Drs. Abdul Syukur, M.Si.

Dimensi strategis kegiatan ini semakin terasa dengan kehadiran narasumber utama, Dr. Raden Lukman Fauroni, M.E.I., Wakil Rektor II UIN Raden Mas Said Surakarta. Dalam paparannya, ia mengajak seluruh peserta untuk melakukan pergeseran paradigma. Menurutnya, Perjanjian Kinerja tidak boleh dipandang sebatas dokumen administratif, melainkan harus difungsikan sebagai instrumen pengendalian kinerja yang dinamis. Ia juga menekankan pentingnya fakultas bertransformasi menjadi strategic academic business unit yang mampu mengelola sumber daya secara cerdas dan berdampak.

Bagi delegasi Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam, gagasan tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang. Di tengah karakteristik fakultas keagamaan yang tidak selalu berorientasi pada keuntungan finansial, Prodi AFI menegaskan bahwa nilai utama yang dihasilkan terletak pada dampak sosial dan keilmuan. Oleh karena itu, strategi pengembangan diarahkan pada penguatan riset sosial-keagamaan yang terintegrasi dengan sains terapan, sehingga mampu menghadirkan solusi konkret bagi persoalan masyarakat.

Memasuki hari kedua, Kamis (18/12), intensitas diskusi semakin meningkat melalui Sidang Komisi Penyusunan Rencana Strategis (RENSTRA). Delegasi Prodi AFI terlibat aktif dalam pembahasan mendalam mengenai prinsip Value for Money, yang menjadi fondasi utama perencanaan anggaran. Setiap program dan kegiatan diuji berdasarkan tiga indikator utama: economy (kewajaran biaya), efficiency (optimalisasi output), dan effectiveness (ketepatan sasaran).

Pembahasan tersebut diperkuat dengan evaluasi pelaksanaan DIPA Tahun Anggaran 2025 yang dipandu oleh Dr. Agus Suryo Suripto dan Siti Nurhayati. Evaluasi ini bertujuan memastikan bahwa setiap alokasi anggaran benar-benar berkontribusi pada penguatan Tri Dharma Perguruan Tinggi, baik dalam bidang pendidikan, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat.

Rangkaian kegiatan ditutup pada Jumat pagi (19/12) dengan penyusunan rencana tindak lanjut yang akan menjadi pijakan implementasi kebijakan di tahun mendatang. Prodi AFI UIN Salatiga pun kembali ke kampus dengan bekal strategi yang lebih terarah dan komprehensif, siap menyongsong tahun 2026 dengan tata kelola yang semakin akuntabel, transparan, serta berorientasi pada dampak akademik dan sosial yang lebih luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *